A. Biografi KH. Aang Muhammad Yahya
Aang Yahya adalah ulama muda yang alim, kharismatik dans Sederhana yang berasal dari Sukabumi. Nama lengkapnya adalah Muhammad Yahya. Diawal namanya tersemat kata Aang, yaitu sebuah panggilan untuk seorang ulama atau tokoh agama di Jawa Barat, makna simbolik “Aang/Aah” memiliki makna yang bersifat umum, yaitu merepresentasikan tokoh atau orang yang memiliki dan menguasai ilmu agama yang luas dan mendalam, kharismatik (otoritatif), berpengaruh, saleh,dan memiliki posisi tinggi dan mulia. Namun, tidak semua daerah di Jawa Barat memanggil Kiyainya dengan panggilan Aang/Aah, masih banyak kata yang digunakan sebagai nama panggilan kepada Kiyai di tanah sunda, diantaranya Ajengan, Akang, tapi penggunaan kata panggilan tersebut tergantung dengan tempat, daerah tertentu.
Muhammad Yahya dilahirkan di Desa Cibeureum, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 5 Juni 1970 M. Muhammad Yahya lahir sebagai putera terakhir dari pasangan KH. Mahmud Zamakhsyari dan Hj. Asyiah seorang ulama besar yang terkenal dengan ketawadhuan dan kealimannya. Selain ahli dalam ilmu agama, ia juga ahli dalam Ilmu Falak dan termasuk sebagai bapak perukyat awal di Sukabumi bersama KH. Tangsoban, dan KH. Ahmad Suja`i. Dari pernikahan KH.Mahmud Zamakhsyari dan Hj. `Asyiah tersebut Aang Yahya mempunyai empat saudara laki-laki yaitu KH. Hasan Sadzili, KH Muhammad Hasyir,KH. Masyhud Sa`dullah, dan KH. Bajir Mujtaba serta mempunyai lima saudara perempuan yaitu Siti Mardiyah, Siti sofiah, Siti Halimatu Sa`diyah,Iis Kholishah, dan Nafi`ah Kulstum. Dari keturunan-keturunan KH.Mahmud Zamakhsyari dan Hj. `Asyiah ini melahirkan Ulama besar seperti KH. Hasan Sadzili dan KH. Muhammad Yahya.
Lahir dari keluarga Ulama besar sangat memengaruhi kepribadian dan ketekunannya dalam menuntut ilmu. Muhammad Yahya kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak kecil umumnya, hanya saja dalam bidang pendidikan, ia sudah mendapatkan pendididikan langsung di lingkungan pondok pesantren ayahnya, Pondok Pesantren Riyaadul Mutafakkirin yang sekarang sudah berganti nama menjadi Pondok Pesantren Daarul Hikam.
setelah dipimpin oleh KH. Hasan Sadzili. Kehidupan Aang Yahya kecil tidaklah berbeda jauh dengan anak kecil umumnya, ia mendapatkan jenjang pendidikan formalnya dari Sekolah Dasar Sukaraja 02 Sukabumi pada 1976-1982. Kemudian setelah lulus SD, Aang Yahya kecil melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Darul Mutaalimin Sukabumi pada 1982-1985.Ketika beranjak ke fase remaja dan lulus dari Madrasah Tsanawiyah, Aang Yahya mulai mendalami ilmu agama di pondok pesantren Riyadul Alfiyah Sadang, Garut, pada tahun 1985-1993.Selain mendalami ilmu agama di pondok pesantren, Muhammad Yahya juga mempelajari ilmu lainnya seperti Ilmu Falak. Ibarat pribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya layak disematkan kepada Aang Yahya karena ia dapat menguasai ilmu agama dan Ilmu Falak seperti ayahnya KH.Mahmud Zamakhsyari yang terkenal sebagai ahli agama dan ahli falak di Jawa Barat khususnya daerah Sukabumi. Seluruh Ilmu Falak yang ia kuasai diperoleh dari guru-gurunya, di antaranya :
1. KH. Hasan Sadzili
Beliau merupakan pengasuh pondok pesantren Darul Hikam yang dikenal dengan panggilan Aang Sadzili. Beliau banyak mencetak Ulama besar diwilayah Jawa Barat. Selain itu, Beliau menguasai keahliannnya dalam semua bidang keilmuan agama, termasuk Ilmu Falak. Aang Sadzili menguasai Ilmu Falak setelah berguru kepada KH. Tangsoban bin Marfu` dalam masalah bab hisab awal bulan, arah kiblat, dan jadwal waktu sholat.Kemudian berguru kepada Syekh Zubair Kudus, murid pertama Syekh Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid Kudus pengarang kitab Fatḥur Ra’ūf Manan, kemudian berguru kepada KH. Jazuli bin H. Sirodj Cianjur, murid kedua dari Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid alBughuri al-Batawi al-Jawi atau terkenal dengan Tuan Mukhtar Bogor pengarang kitab Taqrīb al-Maqṣad fi al-Amal bi Rubu’ Mujayyab, serta berguru kepada ayahnya KH. Mahmud Zamakhsyari murid ketiga Dari Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi melalui KH. Ahmad Suja`i Cianjur dan Syekh Muhammad Manshur bin Abdul Hamid Jakarta, serta dari KH. Jazuli bin H. Sirodj Cianjur murid pertamapertama Syekh Muhammad Manshur bin Abdul Hamid Jakarta Pengarang kitab Sullāmun Nayyirain.
2. KH. Tangsoban Marfu
Beliau adalah salah satu ulama besar yang ada di Jawa Barat khususnya didaerah Sukabumi yang sangat terkenal dengan ketawadhuan,kharismatik, dan kealimannya, yang paling utama ialah keahliannya dalam bidang Ilmu Falak yang pada saat itu sudah dapat membuat sebuah alat bantu dalam melaksanakan rukyat yang menerapkan teori dan rumus dari Prof Saadoe'ddin Djambek (Bukittinggi pada tanggal 24 Maret 1911 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 22 November 1977) sehingga alat ini populer di kalangan ahli hisab rukyat dengan nama“Bektang” atau dengan sebutan lain yaitu “Gawang Lokasi.” Nama tersebut hasil dari gabungan nama kedua tokoh falak yang diambil dari akhir nama Prof. Saadoe'ddin Djambek dan awal nama KH. Tangsoba Marfu` sendiri, maka menjadi Djam-BekTang-soban.
3. Drs. H. Taufik SH. MH
Beliau merupakan salah seorang tokoh/pakar ahli hisab rukyat Indonesia yang memiliki karya monumental yang luar biasa yaitu aplikasi winhisab version 2.0. Sewaktu beliau menjabat sebagai Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama (saat ini Badilag), bersama putranya, ia berinisiatif menciptakan aplikasi Hisabwin yang disempurnakan dengan Winhisab yang memuat data posisi Matahari dan Bulan setiap jam dalam hitungan Universal Time (UT). Di samping itu, aplikasi ini juga dilengkapi dengan jadwal waktu shalat berdasarkan koordinat geografis masing-masing dan data saat terjadinya ijtimak serta ketinggian hilal di Indonesia sesuai dengan lintang dan bujur tempatnya.
Sebelum adanya aplikasi ini, Pengadilan Agama (saat itu di bawah Departemen Agama RI) sangat bergantung kepada Buku Almanak Nautika yang diterbitkan oleh Dinas Hidro-Oseanografi (DisHidros)TNI-AL, yang pada saat itu penerbitannya selalu terlambat yakni ratarata sekitar pertengahan tahun, sedangkan kebutuhan untuk penyusunan jadwal shalat dan perhitungan awal bulan Hijriah harus dilakukan lebih awal.
Oleh sebab itu, atas ide dan kreativitas Taufik dan putranya tersebut,akhirnya kebutuhan Peradilan Agama terhadap data Matahari dan Bulan dapat diatasi. Untuk mengingat sejarah tersebut, dalam setiap Buku Ephemeris yang diterbitkan oleh Kementerian Agama dan Badilag seyogyanya mencantumkan sumber data Winhisab dan nama penciptanya.
4. H. Abdur Rachim
Pria kelahiran Panaruakan, Jawa Barat pada tanggal 3 Februari 1935 dan wafat di Yogyakarta pada 19 November 2004, merupakan seorang tokoh Ilmu Falak Indonesia yang memiliki kontribusi yang banyak terhadap perkembangan Ilmu Falak di Indonesia. Ia memperoleh Ilmu Falak di antaranya dari Saadoe`ddin Djambek ketika ia kuliah di fakultas Syari`ah IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah menyelesaikan studinya diperguruan tinggi itu tahun 1972. Ia diangkat sebagai dosen tetap dan diserahi tugas sebagai ketua Lembaga Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI.
Ia pernah mengikuti Konferensi Penyatuan Kalender di Istambul (1981) dan di Tunisia (1983). Ia menysusun dua buku Ilmu Falak yang berjudul Ilmu Falak, pertama kali diterbitkan oleh Liberty, Yogyakarta pada 1983 dan buku Perhitungan Awal Bulan Dan Gerhana Matahari yang dikenal dengan Sistem Newcomb yang sampai saat ini belum diluncurkan. Buku sistem Newcomb ini sebenarnya merupakan hasil kerjasama beberapa orang yang menamakan dirirnya LAMY (LembagaAstronomi Muda Yogyakarta), di antara anggotanya ialah Ir. Basit Wahid dan Ir. Syahirul Alim.
Dalam rihlah ilmiah, Aang Yahya tidak hanya menuntut ilmu(ifādah), juga mengajarkan ilmunya (istifādah). Seperti saat ini, ia mengabdikan dirinya di pondok pesantren Daarul Hikam dan menjadi salah satu pengasuh pondok pesantren setelah KH. Hasan Sadzili meninggal dunia. Selain mengajarkan ilmu agama, Ilmu Falak juga diajarkan di pondok Pesantrennya. Di antara kitab seputar Ilmu Falak yang dikaji ialah Sullāmun Nayyirain, Taqrīb al-Maqṣad fi al-Amal bi Rubu’ Mujayyab, Fatḥ al-Ra’ūf Manān, Nautika Almanak, Newcomb, dan Ephemeris.
Bahkan pada 1995,Aang Yahya pernah menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) AlMasthuriyah Sukabumi. Aang Yahya juga aktif menjadi narasumber dalam acara seminar yang diadakan di Pusat Observasi Bulan (POB) Qutub Hilal Pelabuhan Ratu Sukabumi. Selain aktif dalam kegiatan mengajar, Aang Yahya juga aktif dalame Keorganisasian di lembaga-lembaga khusus falak, di antaranya menjadi anggota LFNU PBNU dari tahun 1995 sampai sekarang, serta menjadi anggota Badan Hisab Rukyat daerah Sukabumi mulai dari tahun 1995 sampai sekarang dan masuk menjadi Tim Ahli Hisab di Pusat Observasi Bulan (POB) Qutub Hilal Pelabuhan Ratu Sukabumi.
Keahlian Aang Yahya dalam Ilmu Falak tidak hanya disalurkan dengan cara mengajar saja, tapi diaplikasikan dalam bentuk karya tulis juga.Di antara karyanya ialah, Problematika Puasa dan Arah Kiblat yang ditulis dalam artikel/jurnal dan dicetak di Kemenag Pusat serta buku Jadwal Sholat dan Sejarah Sholat yang dicetak di Pondok Pesantren dan berupa alat kiblatmanual yang diberi nama “al-Adillah Qiblat”. Selain dikenal sebagai ahli dalam bidang ilmu agama dan Ilmu Falak, Aang Yahya dikenal oleh banyak orang sebagai Ahli Ṭib (pengobatan tradisional), Ahli Aurod, Ahli Ijazah Hizib, Sholawat, Burdah dan lain-lainnya. Tidak heran, jika setiap harinya ia sering dikunjungi banyak orang untuk berobat (bahasa sunda: lalandong) atau sekedar meminta air doa di tempat tinggalnya.
Dari pemaparan di atas, menurut penulis tidaklah berlebihan jika Aang Yahya disebut sebagai ahli dalam bidang Ilmu Falak, dilihat darisanad keguruannya yang diisi oleh tokoh-tokoh besar dalam bidang Ilmu Falak Indonesia serta pengalamannya dalam kegiatan Ilmu Falak, dan kontribusinya terhadap khazanah Ilmu Falak yang ia salurkan melalui pengajaran di Pondok Pesantren dan seminar. Begitu juga ia selalu tidak pernah alpa dalam kegiatan rukyat hilal pada setiap bulan Hijriah.
Itulah seputar Biografi yang penulis sendiri mendapatkan banyak sekali masukan masukan dan nasihat dari beliau. Penulis sendiri mendapatkan Biografi ini dari salah seorang yang sedang memutolaah dan mentarikh perjalan KH. Aang Yahya.
Insya Allah akan dilanjutkan di lain waktu. Mohon doa pada semua pembaca untuk penulisa semoga diberikan ke istiqomahkan dalam menuntut ilmu di pesantren darul Hikam dan mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat. Aamiin
Penulis memohon maaf jika terdapat banyak kekeliruan dalam penulisan nama,gelar, dan lain lain.
Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar